|
|
Percaya Cinta, Percaya Keajaiban |
|
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Friday, 20 April 2007 |
|
Seorang anggota keluarga dekat sempat bertanya keheranan, kenapa orang yang setegar saya bisa menangis ketika ayah meninggal. Yang membuatnya tambah heran, karena saya adalah satu-satunya orang yang menangis menjelang penguburan. Dan Andapun boleh heran dengan saya. Ini memang bukan cerita sinetron yang mau mengundang rasa kasihan Anda. Melainkan, pengungkapan perasaan duka kehilangan seseorang yang lama menjadi sumber cinta saya. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Monday, 11 December 2006 |
|
Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama. "Kok, belum tidur ?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Thursday, 16 November 2006 |
|
Saya akan bercerita lagi tentang seorang Ayah. Plus dengan gundahnya. Tujuh belas tahun yang lalu, usianya masih empat puluh tujuh tahun, dan ia masih berstatus pegawai negeri. Ia bukan atasan, tapi juga bukan bawahan. Punya atasan, pun ada pegawai yang posisinya berada di bawahnya. Di usia itulah, ia terus menerus merasa gundah. Gundah akan segala bentuk 'permainan' yang dilakukan atasannya, gundah akan keresahan yang dialami pegawai-pegawai di bawahnya, dan teramat gundah akan masa depannya yang tak kunjung berubah. |
|
Last Updated ( Thursday, 16 November 2006 )
|
|
Read more...
|
|
|
Pita Kuning di Pohon Oak Putih |
|
|
|
|
Written by Swastioko Budhi Suryanto
|
|
Thursday, 16 November 2006 |
|
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya. |
|
Read more...
|
|
|
|